Sunday, February 20, 2011

The Fiqh Of Facebook

As an avid Facebook user of a few years, I have tasted its fruits but also experienced the sickness of excess and felt the danger of getting lost among the trees. Whenever Muslims are faced with a new environment, they enter it carrying their principles with them. We also need a sound understanding (fiqh) of the realities of this environment and how to handle some of its specifics.

If time is life, then Facebook is many people’s favorite weapon of suicide. We struggle to find time to seek beneficial knowledge, yet trivial comments about trivial matters get more than their fair share. Someone remarked on Imam Suhaib Webb’s FB “wall” that we check out people’s latest FB updates more frequently than we check our Qur’an to take benefits from its verses. 

The technological aspects of Facebook, particularly with its ever-updating interface, can have an intoxicating effect. It is built upon the principle of maximal stimulation of the eyes and brain; it is not far from the imagination to compare it with hypnosis. All this has a long-term effect on the mind and on the spiritual heart.
What are the signs of excess? Specialists in addiction can list a few, but let me point out one thing that I believe is frighteningly common. I noticed once that when Twitter went down for a few hours then resumed, someone commented on the experience, writing: “When Twitter went down, all I wanted to do was tweet about it!” Ridiculous, yet I would suggest that it is quite representative of a common urge to use these media as a natural outlet for all our thoughts, desires and emotions. As I once wrote:

“We express our thoughts in the form of a status update instead of turning to Allah with our fears and joys. The day of a believer should be a constant conversation with God.”
Even when we are reading and forwarding religious content, if we do so with hearts unaware. To quote from Shaykh Abdallah Adhami’s FB comment: “By all means: share, post, sms, blog, im, email, tweet… (though most importantly, internalize)”. This is the point! If you read a supplication with your eyes, it is no use if your tongue remains dry and your heart remains silent. Is reading a du`a’ (supplication) anything like making du`a’?

Let’s be in no doubt that FB is a public space, though certain aspects (messaging) allow one-to-one communication. If Facebook is like a public street, doesn’t it have rights? The first is lowering the gaze: not just from unseemly images, but from everything that doesn’t concern you. Think about it as hundreds of conversations are presented before you.

The above FB Fiqh advice was based on a hadith (report concerning the Prophet ﷺ) reported in Sahih Muslim, in which Allah’s Messenger ﷺ questioned some people sitting in the road and instructed them to avoid doing so.  When these Companions explained their purpose, the Prophet ﷺ said: “If you must sit, then fulfill the rights of the road: lower your gaze, respond to greetings and talk in a good manner.”
Not only does Facebook make it all too easy to look at pictures of members of the opposite sex and personal details we have no business knowing, but it makes it tempting to pore through threads of comments that at best, are a complete waste our time, and at worst, involve a level of prying. Just as we take responsibility for what we post, we should also be ethical in what we access.

Privacy in general is a major and widely discussed issue of concern regarding Facebook, so a Muslim should be even more aware of the issue. Both sisters and brothers need to beware of broadcasting details that could be misused, and especially pictures in which they are more exposed than they ought to be in public. Even a “private” FB album is never truly private, when you think about it.

These few thoughts on Facebook Fiqh are by no means exhaustive, but I hope they provide a starting point to a greater consciousness and care when using new technology and emerging media.

Source : Suhaibwebb

p/s: kena buka mata hati selepas mata akal membaca. Facebook, Twitter dan teknologi seangkatan dengannya berpotensi menjadi pembunuh senyap kepada HATI malah boleh juga membunuh "pemerintah" seperti dalam kes mubarak..

Friday, February 18, 2011

HIV In More Detail Than You’ve Ever Seen It Before


“It’s hard to visualise what something as small and complex as the HIV virus actually looks like. But now Ivan Konstantinov and his team from Visual Science have created the most-detailed 3D model of the virus to date (see video above). An image of this visualisation just won first place in the 2010 International Science and Engineering Visualization Challenge, sponsored jointly by the journal Science and the National Science Foundation (NSF).  The model contains 17 different viral and cellular proteins and the membrane incorporates 160 thousand lipid molecules, of 8 different types, in the same proportions as in an actual HIV particle. It denotes the parts encoded by the virus’s own genome in orange, while grey shades indicate structures taken into the virus when it interacts with a human cell. To create the visualisation, the team consulted over 100 articles on HIV from leading science journals and talked to experts in the field. Then they reconstructed viral proteins from X-rays before assembling the structure of an entire HIV particle. The final appearance was achieved by experienced designers and 3D graphics specialists.”

            Read more : New Scientist TV: HIV as you’ve never seen it before

Wednesday, February 16, 2011

Keagungan & Kemuliaan Seorang Insan Bernama Muhammad

Salam dan selawat ke atas junjungan mulia nabi kita Muhammad saw. Perutusan baginda ternyata rahmat untuk sekalian alam sebesar-besar contoh dan teladan untuk umat manusia. Baginda adalah sebaik -baik contoh pimpinan agung, sahabat, suami malah suri ummah dalam segenap bidang kehidupan. Mari kita rehatkan  minda dengan sirah baginda yang saya petik daripada blog http://panduanislam.com/blog/category/ceritera-istimewa/. Moga bermanafaat.

Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menampalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Baginda juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga mahupun untuk dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina ‘Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, baginda selalu membantu urusan rumahtangga.

Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang.”
Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada kerana Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,
 
“Belum ada sarapan ya Humaira?” (Humaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang bererti ‘Putih yang kemerah-merahan’)

Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata,
”Kalau begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah baginda bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”

Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
 
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah dirimu menanggung penderitaan yang amat berat, engkau sakitkah ya Rasulullah?”
 
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sihat dan segar”
 
“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali dirimu menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuhmu?
 
Kami yakin engkau sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Ya Rasulullah! Adakah bila engkau menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buatmu?”

Lalu baginda menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, engkau akan berkorban apa sahaja demi Rasulmu. Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”
 
Baginda pernah tanpa rasa apa-apa sedikitpun makan di sebelah seorang tua Arab Badwi yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si tua Arab Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH SWT dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah SAW menolak sama sekali rasa ketuanan.

Anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di hadapan umum mahupun dalam keseorangan.

Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak, “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.” 
 
Oleh itu kepada pembaca dan pelawat semua, marilah kita mengenang akan insan yang agung lagi mulia ini dengan berselawat ke atasnya untuk memperolah syafaat darinya. Bukan hanya pada Hari Kelahirannya sahaja, tetapi pada setiap hari. Wallahulam…
 
 

Anak Saudara Isteri: Adakah Harus Bersalaman Dengannya?

Soalan; Salam,  seorang lelaki telah berkahwin dengan seorang wanita...apakah hukum bersalaman dengan anak saudara isterinya yang sudah baligh (perempuan) adakah dibolehkan dan kenapa? begitulah sebaliknya bagi pihak perempuan pula (isteri).syukran

Jawapan;

Anak saudara isteri tidak termasuk dalam senarai mahram muabbad (yakni orang-orang yang haram dikahwini oleh seorang lelaki buat selamanya). Oleh itu, statusnya sama seperti wanita ajnabi yang lain iaitu tidak boleh bersentuhan dengannya (termasuk bersalaman), berdua-duaannya dengannya, melihat auratnya dan menemaninya untuk bermusafir.

Ikatan mahram wujud dengan tiga sebab;
1. Kekeluargaan
2. Perkahwinan
3. Penyusuan

Bagi ikatan mahram dengan sebab perkahwinan, hanya empat orang sahaja yang terbabit;
1. Ibu mertua
2. Anak menantu (yakni isteri kepada anak lelaki).
3. Anak tiri
4. Ibu tiri (yakni isteri bapa)

Oleh kerana anak saudara isteri tidak tersenarai dalam senarai mahram kerana perkahwinan di atas, ia kekal sebagai wanita ajnabi dan tertakluk dengan hukum-hakam wanita ajnabi tadi. Di antara mereka berdua (yakni antara suami dan anak saudara isteri) halal perkahwinan jika berlaku perpisahan antara suami dan isteri terbabit itu sama ada kerana kematian atau berlaku penceraian putus (yakni penceraian yang tidak boleh dirujuk tanpa akad baru).

Merujuk kepada soalan di atas, tidak harus suami bersalaman dengan anak saudara isterinya (perempuan) yang telah baligh kerana di antara mereka berdua tidak ada ikatan mahram muabbad.

Wallahu a'lam.


Total Pageviews

free counters
Powered By Blogger